Minggu, 08 November 2015

Interjeksi dalam Novel "Bisikan Tetesan Hujan" Karya Johan Mahyudi


INTERJEKSI DALAM NOVEL BISIKAN TETESAN HUJAN KARYA JOHAN MAHYUDI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBELAJARAN BAHASA DI SMP


 






JURNAL SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Strata Satu (S1) Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
OLEH
FARIDA JAEKA
E1C011010


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2015

Dosen Pembimbing I,



Drs. H. KhairulParidi, M.Hum
NIP. 196012311987031018

Dosen Pembimbing II,



Drs. I NyomanSudika, M.Hum
NIP. 196212311989031024
ABSTRAK
Interjeksi dalam Novel Bisikan Tetesan Hujan  Karya Johan Mahyudi dan Hubungannya dengan Pembelajaran Bahasa di SMP
Oleh
Farida Jaeka
E1C011010
Penelitian ini membahas masalah bentuk, makna, dan jenis interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi serta hubungannya dengan pembelajaran bahasa di SMP. Tujuannya ialah mendeskripsikan bentuk, makna, dan jenis interjeksi dalam novel tersebut serta hubungannya dengan pembelajaran bahasa di SMP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak (observasi), dengan teknik lanjutannya yaitu metode simak bebas libat cakap dengan teknik catat. Sementara itu, metode analisis data yang digunakan adalah metode padan ekstralingual. Selanjutnya, metode penyajian data yang digunakan adalah metode penyajian data secara informal. Dari hasil penelitian ini didapatkan tiga bentuk interjeksi, yaitu bentuk tunggal, repetisi/pengulangan, dan bentuk dasar. Makna yang diperoleh tergantung dari distribusi bentuk interjeksi tersebut dalam konteks tuturannya. Dari makna yang dianalisis, maka diperoleh jenis interjeksi. Jumlah seluruh jenis interjeksi yang didapatkan adalah 32 jenis, yaitu simpulan, penjelas, penarik perhatian pembaca, kebingungan, persetujuan, pemberi informasi tambahan, pengaduan, kekaguman, pengingat, penerima pernyataan sebelumnya, kekagetan, keterkejutan, sanggahan, pujian, sanggupan, kekecewaan,  kegelisahan, panggilan, kekhawatiran, kesenangan, keluhan, pemotong pembicaraan, menantang, ajakan, sapaan, menyuruh, permintaan, larangan, kekesalan, keheranan, dan pembenaran. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai bahan penunjang pembelajaran bahasa di SMP.
Kata kunci: Interjeksi, Novel, Pembelajaran Bahasa 
PENDAHULUAN
Interjeksi atau kata seru seringkali digunakan untuk menggambarkan perasaan tanpa harus mengungkapkan kalimat yang menjelaskan apa yang kita rasakan itu. Penggambaran perasaan melalui kalimat panjang yang akan diucapkan cukup diwakili hanya dengan satu kata saja, yaitu interjeksi. Misalnya interjeksi astaga, bisa bermakna terkejut, heran, khawatir, dan lain sebagainya. Makna yang ditimbulkan oleh satu bentuk interjeksi  astaga tersebut  tergantung pada konteks diucapkannya.  Dari makna yang berbeda ini, akan muncul jenis interjeksi yang berbeda meskipun memiliki bentuk yang sama.
Interjeksi juga digunakan oleh Johan Mahyudi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan yang terbit pada tahun 2012. Dalam pembacaan prapenelitian, diketahui bahwa terdapat banyak kata interjeksi yang memiliki bentuk yang sama, disuguhkan di beberapa konteks kalimat yang berbeda. Hal ini tentu akan menimbulkan makna yang berbeda dari satu bentuk kata interjeksi yang sama itu. Ketika maknanya berbeda, maka jenis interjeksi dari satu bentuk yang sama bisa berbeda pula. Seperti interjeksi  astaga  di atas, bisa termasuk ke dalam jenis interjeksi keheranan, keterkejutan, atau pun kekhawatiran. Inilah yang menjadi dasar pemilihan peneliti untuk mengkaji bentuk dan makna interjeksi, yang kemudian dapat menentukan jenis interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi.
Dalam novel lain, memang terdapat banyak interjeksi yang disuguhkan pengarang sebagai dialog antartokoh di dalamnya. Namun, bentuk interjeksi tersebut memiliki makna yang hampir sama dengan kalimat/tuturan yang terdapat pada dialog yang lain dalam alur yang berbeda. Artinya, satu bentuk interjeksi digunakan dalam satu konteks kalimat yang sama meskipun disajikan dalam alur yang berbeda. Misalnya, interjeksi ayo dalam kalimat “Ayo. Aku sudah lama menunggumu.”  bermakna sebuah ajakan. Bentuk interjeksi tersebut disuguhkan lagi dalam dialog lain dalam alur yang berbeda dengan makna yang sama. Misalnya dalam kalimat, “Ayo, kita berangkat.” bermakna sebuah ajakan pula.  Hal inilah yang membedakan distribusi bentuk interjeksi novel lain dengan novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi.
Berbicara mengenai pembelajaran di sekolah, dalam mengajarkan interjeksi pada kelas VIII SMP semester 1, tentu memerlukan media sebagai bahan ajar dalam proses pengajarannya. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan penunjang dalam pembelajaran bahasa di sekolah, karena interjeksi yang ada dalam novel dikaitkan dengan materi yang diajarkan sesuai dengan kurikulum 2013.
Dari uraian di atas, perlu kiranya untuk mengkaji bentuk, makna dan jenis interjeksi dalam Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi serta hubungannya dengan pembelajaran bahasa di sekolah (SMP). Hal ini dilakukan selain untuk memberikan hasil penelitian mengenai hubungan bahasa, sastra dan pengajaran secara integral, juga akan bisa memberikan manfaat sebagai bahan penunjang dalam pembelajaran bahasa di SMP.
TINJAUAN PUSTAKA
Interjeksi
            Djajasudarma (2010: 52) menyebutkan bahwa interjeksi atau kata seru adalah kata yang berfungsi mengungkapkan perasaan. Kata ini digunakan untuk memperkuat perasaan sedih, jijik, heran, gembira, dan sebagainya. Interjeksi dapat berasal dari bahasa asing atau dari bahasa daerah. Pendapat tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan Kridalaksana (2008: 120), bahwa interjeksi adalah kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara dan secara sintaksis tidak berhubungan dengan kata-kata lain dalam ujaran. Interjeksi bersifat ekstrakalimat dan selalu mendahului ujaran sebagai teriakan yang lepas atau berdiri sendiri. Hal inilah yang membedakan dari partikel fatis yang dapat muncul di bagian ujaran mana pun tergantung dari maksud pembicara. Demikian pula dengan pernyataan Alwi dkk (2003:303) yang menyatakan bahwa interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan hati pembicara. Untuk memperkuat rasa heran, kagum, jijik, orang memakai kata tertentu di samping kalimat yang mengandung makna pokok yang dimaksud.
Interjeksi atau kata seru memiliki bentuk dalam penuturannya. Dalam konteks tertentu, bentuk-bentuk interjeksi yang sama bisa menghasilkan makna yang berbeda. Bentuk interjeksi itu berupa kata. Kata pada umumnya berbentuk kata tunggal. Menurut Sukri (2008:14), kata tunggal adalah satuan gramatik yang terdiri dari satuan yang lebih kecil lagi. Sementara itu, terdapat pula bentuk interjeksi yang berupa repetisi. Repetisi ialah pengulangan bentuk sebelumnya. Misalnya bentuk interjeksi wah. Bentuk tersebut bisa tergolong ke dalam repetisi seperti dalam kalimat, “Wah wah, bersih sekali ruangan ini!” Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bentuk interjeksi biasanya berupa bentuk tunggal dan repetisi/ pengulangan.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa bentuk interjeksi biasanya berupa bentuk tunggal dan repetisi. Sementara itu, ahli bahasa yang lain menyebutkan beberapa bentuk interjeksi. Kridalaksana (2008:121) menjelaskan bahwa terdapat bermacam bentuk interjeksi yang dikenal hingga sekarang dalam kehidupan masyarakat bahasa Indonesia yakni sebagai berikut:
a.        ahoi, ayo, eh, hai, halo, he, sst, wahai (termasuk interjeksi seruan);
b.      aduhai, ai, amboi, astaga, asyoi, hm, wah, dan sebagainya (termasuk interjeksi keheranan atau kekaguman);
c.       aduh (termasuk interjeksi kesedihan); dan lain sebagainya.
Sementara itu, menurut Putrayasa (2008:66), terdapat beberapa bentuk interjeksi, yaitu:
1.      bah, cih, cis, ih, idih (termasuk interjeksi kejijikan)
2.      brengsek, sialan, busyet, keparat, celaka (termasuk interjeksi kekesalan atau kecewa)
3.      aduh (duh), aduhai, amboi, asyik, wah (termasuk interjeksi kekaguman atau kepuasan)
Makna interjeksi itu tergantung konteks melekatnya dalam kalimat. Jenis makna yang berkaitan dengan konteks disebut makna kontekstual (lihat Chaer, 2002:62). Jenis makna ini lazim disebut makna gramatikal atau makna situasional. Makna interjeksi termasuk ke dalam jenis makna kontekstual. Hal ini disebabkan bentuk interjeksi yang sama bisa memiliki makna yang berbeda ketika melekat dalam kalimat (konteks) yang berbeda.
Jenis interjeksi ditentukan oleh makna dari bentuk interjeksi itu sendiri. Putrayasa (2008:66) menyebutkan beberapa jenis interjeksi yaitu:
1.      Interjeksi kejijikan: bah, cih, cis, ih, idih, contoh:
2.      Interjeksi kekesalan atau kecewa: brengsek, sialan, busyet, keparat, celaka
3.      Interjeksi kekaguman atau kepuasan: aduh (duh), aduhai, amboi, asyik, wah
4.      Interjeksi keheranan: aduh, aih, ai. Lho, duilah, eh, oh, ah
5.      Interjeksi kekagetan: astaga, astagfirullah, masaAllah, masa, alamak, gila
Konteks
Konteks diperlukan agar analisis semakin jelas dan terarah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:591), disebutkan bahwa konteks adalah bagian suatu uraian atau kalimat yang mendukung atau menambah kejelasan makna. Menurut Lubis dalam Yuliana (2011: 23) konteks pemakaian bahasa dibedakan menjadi empat macam sebagai berikut:
1)      konteks fisik, yaitu meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu komunikasi, objek yang disajikan dalam peristiwa komunikasi itu dan tindakan atau perilaku dari para peran dalam peristiwa komunikasi itu
2)      konteks epistemis atau latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh pembicara dan pendengar
3)      konteks linguistik, yang terdiri dari kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang mendahului satu kalimat atau tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi
4)      konteks sosial, yaitu relasi  sosial dan latar dari si pembicara kaitannya dengan para pendengar.
Interjeksi dalam Pembelajaran Bahasa di SMP
Interjeksi yang terdapat dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP terdapat pada kelas VIII (delapan) semester 1 (satu) dalam tema Teks Cerita Moral/Fabel Kompetensi Inti no 1.1 Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa untuk mempersatukan bangsa Indonesia di tengah keberagaman bahasa dan budaya, 2.1 Memiliki perilaku jujur dalam menceritakan sudut pandang moral yang eksplisit, dan 3.1 Memahami teks cerita moral/fabel, ulasan, diskusi, cerita prosedur, dan cerita biografi baik melalui lisan maupun tulisan (Permendiknas, 2014).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak, dengan teknik lanjutannya yaitu metode simak bebas libat cakap dengan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan ekstralingual. Metode padan ekstralingual merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis unsur bahasa dengan unsur di luar bahasa, misalnya situasi dan kondisi yang memicu kemunculan unsur bahasa tersebut (Mahsun, 2013:120).
Data dari penelitian ini berupa interjeksi yang terdapat dalam konteks melekatnya interjeksi itu. Objek dari penelitian ini adalah kata/frase/kalimat yang mengandung interjeksi saat dituturkan dalam novel Bisiskan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi. Sumber data dari penelitian ini adalah novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi. novel tersebut terbit pada Desember 2012, dengan tebal 520 halaman.
PEMBAHASAN
Bentuk Interjeksi dalam Novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi
Dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi, terdapat tiga bentuk interjeksi, yakni bentuk tunggal, repetisi/pengulangan dan bentuk dasar. Bentuk tunggal tersebut berjumlah 19, repetisi/pengulangan berjumlah 2, dan bentuk dasar berjumlah 1. Berikut akan diuraikan bentuk-bentuk interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi.
No
BENTUK INTERJEKSI
Bentuk Tunggal
Repetisi/Pengulangan
Bentuk Dasar
1.
Nah
Oke…Oke
Sialan
2.
Oh
Ho…Ho

3.
Hee


4.
Yeah


5.
Hei


6.
Ayo


7.
Oke


8.
Hai


9.
Ha


10.
He


11.
Kok


12.
Hallo


13.
Astaga


14.
Hai


15.
Waw


16.
Ah


17.
Aduh


18.
Haaa


19.
Mari


Tabel 1. Bentuk-bentuk Interjeksi
Makna Interjeksi dalam Novel Bisikan Tetesan Hujan Karya Johan Mahyudi
            Makna interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi dianalisis dari bentuk interjeksi dalam konteks kalimat tempat melekatnya interjeksi tersebut. Berikut akan dipaparkan makna interjeksi berdasarkan distribusi bentuk interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi.
No
Makna Interjeksi
Bentuk Interjeksi
Konteks
1.
Menyatakan ‘simpulan’
Nah
Epistemis
2.
Menyatakan ‘menjelaskan’
Nah
Linguistik
3.
Menyatakan ‘ketertarikan pembicara terhadap hal yang ingin diketahuinya’
Nah
Sosial
4.
Menyatakan ‘kebingungan’
Nah
Epistemis
5.
Menyatakan ‘persetujuan’
Nah
Linguistik
Oke
Linguistik
Oh
Linguistik
6.
Menyatakan ‘memberikan informasi tambahan’
Oh
Fisik
7.
Menyatakan ‘pengaduan’
Oh
Fisik
8.
Menyatakan ‘mengagumi’
Oh
Fisik
Waw
Fisik
9.
Menyatakan ‘mengingat’
Oh
Sosial
10.
Menyatakan ‘tidak menyanggah pernyataan sebelumnya’
Oh
Linguistik
11.
Menyatakan ‘kekagetan’
Oh
Linguistik
Ha
Linguistik
Astaga
Fisik
Haaa
Fisik
12.
Menyatakan ‘keterkejutan’
Oh
Linguistik
He
Linguistik
Astaga
Linguistik
13.
Menyatakan ‘sanggahan’
Oh
Linguistik
He
Linguistik
14.
Menyatakan ‘pujian’
Oh
Linguistik
15.
Menyatakan ‘kesanggupan’
Oh
Linguistik
16.
Menyatakan ‘harapan’
Oh
Epsitemis
17.
Menyatakan ‘kekecewaan’
Oh
Linguistik
Aduh
Linguistik
18.
Menyatakan ‘kegelisahan’
Oh
Sosial
19.
Menyatakan ‘panggilan’
Oh
Sosial
20.
Menyatakan ‘kekhawatiran’
Oh
Linguistik
21.
Menyatakan ‘perasaan senang’
Hee
Fisik
He
Linguistik
Waw
Linguistik
Ho…Ho
Linguistik
22.
Menyatakan ‘keluhan’
Yeah
Epistemis
23.
Menyatakan ‘memotong pembicaraan’
Hei
Linguistik
24.
Menyatakan ‘menantang’
Hei
Epistemis
25.
Menyatakan ‘menyapa’
Hei
Fisik
Hai
Fisik
Hallo
Fisik
26.
Menyatakan ‘ajakan’
Ayo
Linguistik
Mari
Epistemis
27.
Menyatakan ‘menyuruh’
Ayo
Fisik
28.
Menyatakan ‘meminta’
Ayo
Fisik
29.
Menyatakan ‘larangan’
He
Fisik
30.
Menyatakan ‘kekesalan’
He
Fisik
Sialan
Linguistik
Ah
Linguistik
Aduh
Linguistik
31.
Menyatakan ‘keheranan’
Kok
Fisik
32.
Menyatakan ‘pembenaran’
Ah
Linguistik
Tabel 2. Makna Interjeksi


Catatan:
Meskipun bentuk interjeksi yang sama terdapat dalam konteks yang sama, tetapi konteks yang dimaksud ialah konteks kalimat tuturan yang berlangsung. Dalam hal ini, bisa saja suasana, topik, waktu, tempatnya yang berbeda. Jadi, makna dianalisis tetap berdasarkan konteks kalimat tempat melekatnya bentuk interjeksi itu. (untuk lebih jelasnya, lihat Skripsi Jaeka, 2015).
Jenis Interjeksi dalam Novel Bisikan Tetesan Hujan Karya Johan Mahyudi
Jenis interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi dianalisis berdasarkan teori yang digagas oleh para ahli. Akan tetapi, dalam proses analisis, ditemukan banyak jenis interjeksi yang tidak terdapat di dalam teori yang digagas ahli tersebut. Dengan demikian, hasil analisis mengenai jenis interjeksi dalam penelitian ini, ditemukan beberapa jenis interjeksi baru, yang tidak tertulis dalam teori yang digagas oleh para ahli. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan peneliti terhadap bentuk dan makna interjeksi pada novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi, diketahui terdapat beberapa jenis interjeksi yang akan diuraikan sebagai berikut:
Jenis Interjeksi

1.      Interjeksi Simpulan
2.      Interjeksi Penjelas
3.      Interjeksi Penarik Perhatian Pembaca
4.      Interjeksi Kebingungan
5.      Interjeksi persetujuan
6.      Interjeksi Pemberi Informasi Tambahan
7.      InterjeksiPengaduan
8.      Interjeksi Kekaguman
9.      Interjeksi Pengingat
10.  Interjeksi Peneriman Pernyataan Sebelumnya
11.  Interjeksi Kekagetan
12.  Interjeksi Keterkejutan
13.  Interjeksi Sanggahan
14.  Interjeksi Pujian
15.  Interjeksi Kesanggupan
16.  Interjeksi Harapan
17.  Interjeksi Kekecewaan
18.  Interjeksi Kegelisahan
19.  Interjeksi Panggilan
20.  Interjeksi Kekhawatiran
21.  Interjeksi Kesenangan
22.  Interjeksi Keluhan
23.  Interjeksi Pemotong Pembicaraan
24.  Interjeksi Menantang
25.  Interjeksi Sapaan
26.  Interjeksi Ajakan
27.  Interjeksi Menyuruh
28.  Interjeksi Permintaan
29.  Interjeksi Larangan
30.  Interjeksi Kekesalan
31.  Interjeksi keheranan
32.  Interjeksi Pembenaran

Hubungan interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi dengan pembelajaran bahasa di SMP
Hubungan interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi dengan pembelajaran bahasa di SMP terdapat pada materi bahasa yang diajarkan pada kelas VIII semester satu dalam tema Teks Cerita Moral/Fabel dalam kurikulum 2013. Di dalam materi tersebut, terdapat ulasan mengenai interjeksi, sehingga hasil penelitian bisa dijadikan sebagai bahan penunjang pembelajaran bagi siswa yang sedang mempelajari materi interjeksi dalam Teks Cerita Moral/Fabel.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1.      Bentuk interjeksi yang terdapat di dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi terdiri dari tiga bentuk, yakni berbentuk kata tunggal, repetisi/pengulangan, dan bentuk dasar. Kata tunggal berjumlah 19, repetisi/pengulangan interjeksi berjumlah 2, dan bentuk dasar berjumlah 1. Dari hasil analisis, terdapat bentuk interjeksi yang sama dalam konteks kalimat yang berbeda. Dari distribusi yang berbeda ini, kita dapat menentukan makna dan jenis interjeksi.
2.      Makna interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi tergantung pada konteks melekatnya interjeksi tersebut dalam kalimat. Artinya, makna dari kata interjeksi bisa berbeda ketika distribusi kalimatnya berbeda. Perbedaan makna ini akan menghasilkan jenis interjeksi yang berbeda.
3.      Jenis interjeksi yang ditemukan dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi berjumlah 32 jenis, yaitu simpulan, penjelas, penarik perhatian pembaca, kebingungan, persetujuan, pemberi informasi tambahan, pengaduan, kekaguman, pengingat, penerima pernyataan sebelumnya, kekagetan, keterkejutan, sanggahan, pujian, sanggupan, kekecewaan,  kegelisahan, panggilan, kekhawatiran, kesenangan, keluhan, pemotong pembicaraan, menantang, ajakan, sapaan, menyuruh, permintaan, larangan, kekesalan, keheranan, dan pembenaran. Dari seluruh jenis interjeksi tersebut, terdapat kesamaan bentuk di dalamnya. Akan tetapi, jenis interjeksi dapat diketahui berdasarkan makna yang terkandung di dalam konteks kalimat tempat melekatnya bentuk interjeki itu.
4.      Hubungan interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi dengan pembelajaran bahasa di SMP terdapat pada materi bahasa yang diajarkan pada kelas VIII semester satu dalam tema Teks Cerita Moral/Fabel dalam kurikulum 2013. Di dalam materi tersebut, terdapat ulasan mengenai interjeksi, sehingga hasil penelitian bisa dijadikan sebagai bahan penunjang pembelajaran bagi siswa yang sedang mempelajari materi interjeksi dalam Teks Cerita Moral/Fabel.
Saran
            Penelitian mengenai keterkaitan antara bahasa, sastra, dan kependidikan jarang dilakukan. Padahal, penelitian semacam ini sangat menarik untuk dilakukan, khususnya bagi mahasiswa FKIP prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Penelitian mengenai interjeksi dalam novel dan hubungannya dengan pembelajaran bahasa di sekolah ini pun belum sempurna dilakukan. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk meneliti kelas kata lainnya yang masih belum familiar didengar oleh umum untuk dihubungkan dengan pembelajaran di sekolah.
            Keterbatasan peneliti dalam meneliti satu bahasa menyebabkan penelitian ini hanya meneliti interjeksi bahasa Indonesia saja. Padahal, bahasa daerah pun menarik juga untuk diteliti. Oleh karena itu, alangkah baiknya bagi peneliti selanjutnya untuk lebih melirik bahasa daerah yang terkait dengan sastra dan kependidikan. Jika hal ini dilakukan, maka hasil penelitian dari prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah akan lebih kaya dan lebih memberikan manfaat yang berguna bagi semua kalangan, yang pada akhirnya akan menambah khazanah hasil penelitian dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia: Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta
Permendiknas. 2014. Silabus Bahasa Indonesia Permen No 58 Tahun 2014
Tentang Kurikulum SMP
Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan
Infleksional). Bandung: Refika Aditama
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia Edisi Kedua.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Djajasudarma, T Fatimah. 2010. Metode Linguistik: Ancangan Metode  Penelitian
dan Kajian. Bandung: Refika Aditama
Sukri, Muhammad. 2008. Morfologi: Kajian Antara Bentuk dan Makna.
Lombok: Cerdas Press
Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
Pustaka
Yuliana, Nuryati. 2011. “Analisis Pragmatik dalam Kartun Editorial Kabar One  pada Program Berita TV One”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret


Tidak ada komentar:

Posting Komentar