INTERJEKSI DALAM NOVEL BISIKAN TETESAN HUJAN KARYA JOHAN
MAHYUDI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBELAJARAN BAHASA DI SMP
JURNAL SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan
Program Strata Satu (S1) Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
OLEH
FARIDA
JAEKA
E1C011010
E1C011010
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2015
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2015
Dosen
Pembimbing I,
Drs.
H. KhairulParidi, M.Hum
NIP.
196012311987031018
|
Dosen
Pembimbing II,
Drs.
I NyomanSudika, M.Hum
NIP.
196212311989031024
|
ABSTRAK
Interjeksi dalam Novel Bisikan Tetesan Hujan Karya Johan Mahyudi dan Hubungannya dengan
Pembelajaran Bahasa di SMP
Oleh
Farida Jaeka
E1C011010
E1C011010
Penelitian ini membahas
masalah bentuk, makna, dan jenis interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi serta hubungannya dengan
pembelajaran bahasa di SMP. Tujuannya ialah mendeskripsikan bentuk, makna, dan
jenis interjeksi dalam novel tersebut serta hubungannya dengan pembelajaran
bahasa di SMP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak (observasi), dengan
teknik lanjutannya yaitu metode simak bebas libat cakap dengan teknik catat.
Sementara itu, metode analisis data yang digunakan adalah metode padan
ekstralingual. Selanjutnya, metode penyajian data yang digunakan adalah metode
penyajian data secara informal. Dari hasil penelitian ini didapatkan tiga
bentuk interjeksi, yaitu bentuk tunggal, repetisi/pengulangan, dan bentuk dasar.
Makna yang diperoleh tergantung dari distribusi bentuk interjeksi tersebut
dalam konteks tuturannya. Dari makna yang dianalisis, maka diperoleh jenis
interjeksi. Jumlah seluruh jenis interjeksi yang didapatkan adalah 32 jenis,
yaitu simpulan, penjelas, penarik perhatian pembaca, kebingungan, persetujuan,
pemberi informasi tambahan, pengaduan, kekaguman, pengingat, penerima
pernyataan sebelumnya, kekagetan, keterkejutan, sanggahan, pujian, sanggupan,
kekecewaan, kegelisahan, panggilan,
kekhawatiran, kesenangan, keluhan, pemotong pembicaraan, menantang, ajakan,
sapaan, menyuruh, permintaan, larangan, kekesalan, keheranan, dan pembenaran.
Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai bahan penunjang pembelajaran bahasa di
SMP.
Kata kunci: Interjeksi, Novel,
Pembelajaran Bahasa
PENDAHULUAN
Interjeksi
atau kata seru seringkali digunakan untuk menggambarkan perasaan tanpa harus
mengungkapkan kalimat yang menjelaskan apa yang kita rasakan itu. Penggambaran
perasaan melalui kalimat panjang yang akan diucapkan cukup diwakili hanya
dengan satu kata saja, yaitu interjeksi. Misalnya interjeksi astaga, bisa bermakna terkejut, heran,
khawatir, dan lain sebagainya. Makna yang ditimbulkan oleh satu bentuk
interjeksi astaga tersebut tergantung pada konteks
diucapkannya. Dari makna yang berbeda
ini, akan muncul jenis interjeksi yang berbeda meskipun memiliki bentuk yang
sama.
Interjeksi
juga digunakan oleh Johan Mahyudi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan yang terbit pada tahun 2012. Dalam pembacaan
prapenelitian, diketahui bahwa terdapat banyak kata interjeksi yang memiliki
bentuk yang sama, disuguhkan di beberapa konteks kalimat yang berbeda. Hal ini
tentu akan menimbulkan makna yang berbeda dari satu bentuk kata interjeksi yang
sama itu. Ketika maknanya berbeda, maka jenis interjeksi dari satu bentuk yang
sama bisa berbeda pula. Seperti interjeksi astaga di atas, bisa termasuk ke dalam jenis
interjeksi keheranan, keterkejutan, atau pun kekhawatiran. Inilah yang menjadi
dasar pemilihan peneliti untuk mengkaji bentuk dan makna interjeksi, yang
kemudian dapat menentukan jenis interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan
Mahyudi.
Dalam
novel lain, memang terdapat banyak interjeksi yang disuguhkan pengarang sebagai
dialog antartokoh di dalamnya. Namun, bentuk interjeksi tersebut memiliki makna
yang hampir sama dengan kalimat/tuturan yang terdapat pada dialog yang lain
dalam alur yang berbeda. Artinya, satu bentuk interjeksi digunakan dalam satu
konteks kalimat yang sama meskipun disajikan dalam alur yang berbeda. Misalnya,
interjeksi ayo dalam kalimat “Ayo. Aku sudah lama menunggumu.” bermakna sebuah ajakan. Bentuk interjeksi
tersebut disuguhkan lagi dalam dialog lain dalam alur yang berbeda dengan makna
yang sama. Misalnya dalam kalimat, “Ayo,
kita berangkat.” bermakna sebuah ajakan pula.
Hal inilah yang membedakan distribusi bentuk interjeksi novel lain
dengan novel Bisikan Tetesan Hujan
karya Johan Mahyudi.
Berbicara
mengenai pembelajaran di sekolah, dalam mengajarkan interjeksi pada kelas VIII
SMP semester 1, tentu memerlukan media sebagai bahan ajar dalam proses
pengajarannya. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan penunjang
dalam pembelajaran bahasa di sekolah, karena interjeksi yang ada dalam novel
dikaitkan dengan materi yang diajarkan sesuai dengan kurikulum 2013.
Dari uraian di atas,
perlu kiranya untuk mengkaji bentuk, makna dan jenis interjeksi dalam Bisikan Tetesan Hujan
karya Johan Mahyudi serta hubungannya dengan pembelajaran bahasa di sekolah
(SMP).
Hal ini dilakukan selain untuk memberikan hasil penelitian mengenai hubungan
bahasa, sastra dan pengajaran secara integral, juga akan bisa memberikan
manfaat sebagai bahan penunjang dalam pembelajaran bahasa di SMP.
TINJAUAN PUSTAKA
Interjeksi
Djajasudarma
(2010: 52) menyebutkan bahwa interjeksi atau kata seru adalah kata yang
berfungsi mengungkapkan perasaan. Kata ini digunakan untuk memperkuat perasaan
sedih, jijik, heran, gembira, dan sebagainya. Interjeksi dapat berasal dari
bahasa asing atau dari bahasa daerah. Pendapat tersebut sejalan dengan apa yang
diungkapkan Kridalaksana (2008: 120), bahwa interjeksi adalah kategori yang
bertugas mengungkapkan perasaan pembicara dan secara sintaksis tidak
berhubungan dengan kata-kata lain dalam ujaran. Interjeksi bersifat ekstrakalimat
dan selalu mendahului ujaran sebagai teriakan yang lepas atau berdiri sendiri.
Hal inilah yang membedakan dari partikel fatis yang dapat muncul di bagian
ujaran mana pun tergantung dari maksud pembicara. Demikian pula dengan
pernyataan Alwi dkk (2003:303) yang menyatakan bahwa interjeksi atau kata seru
adalah kata tugas yang mengungkapkan hati pembicara. Untuk memperkuat rasa
heran, kagum, jijik, orang memakai kata tertentu di samping kalimat yang
mengandung makna pokok yang dimaksud.
Interjeksi atau kata seru memiliki bentuk dalam
penuturannya. Dalam konteks tertentu, bentuk-bentuk interjeksi yang sama bisa
menghasilkan makna yang berbeda. Bentuk interjeksi itu berupa kata. Kata pada
umumnya berbentuk kata tunggal. Menurut Sukri (2008:14), kata tunggal adalah
satuan gramatik yang terdiri dari satuan yang lebih kecil lagi. Sementara itu,
terdapat pula bentuk interjeksi yang berupa repetisi. Repetisi ialah
pengulangan bentuk sebelumnya. Misalnya bentuk interjeksi wah. Bentuk tersebut bisa tergolong ke dalam repetisi seperti dalam
kalimat, “Wah wah, bersih sekali
ruangan ini!” Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bentuk interjeksi biasanya
berupa bentuk tunggal dan repetisi/ pengulangan.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa bentuk
interjeksi biasanya berupa bentuk tunggal dan repetisi. Sementara itu, ahli
bahasa yang lain menyebutkan beberapa bentuk interjeksi. Kridalaksana
(2008:121) menjelaskan bahwa terdapat bermacam bentuk interjeksi yang dikenal
hingga sekarang dalam kehidupan masyarakat bahasa Indonesia yakni sebagai
berikut:
a.
ahoi,
ayo, eh, hai, halo, he, sst, wahai (termasuk interjeksi seruan);
b.
aduhai, ai, amboi, astaga, asyoi,
hm, wah, dan sebagainya (termasuk interjeksi
keheranan atau kekaguman);
c.
aduh (termasuk interjeksi kesedihan); dan lain sebagainya.
Sementara
itu, menurut Putrayasa (2008:66), terdapat beberapa bentuk interjeksi, yaitu:
1.
bah, cih, cis, ih, idih (termasuk interjeksi kejijikan)
2.
brengsek, sialan, busyet, keparat,
celaka (termasuk interjeksi kekesalan atau
kecewa)
3.
aduh (duh), aduhai, amboi, asyik,
wah (termasuk interjeksi kekaguman atau
kepuasan)
Makna interjeksi
itu tergantung konteks melekatnya dalam kalimat. Jenis makna yang berkaitan
dengan konteks disebut makna kontekstual (lihat Chaer, 2002:62). Jenis makna
ini lazim disebut makna gramatikal atau makna situasional. Makna interjeksi
termasuk ke dalam jenis makna kontekstual. Hal ini disebabkan bentuk interjeksi
yang sama bisa memiliki makna yang berbeda ketika melekat dalam kalimat
(konteks) yang berbeda.
Jenis interjeksi ditentukan oleh makna
dari bentuk interjeksi itu sendiri.
Putrayasa (2008:66) menyebutkan beberapa jenis interjeksi yaitu:
1.
Interjeksi
kejijikan: bah, cih, cis, ih, idih, contoh:
2.
Interjeksi
kekesalan atau kecewa: brengsek, sialan,
busyet, keparat, celaka
3.
Interjeksi
kekaguman atau kepuasan: aduh (duh),
aduhai, amboi, asyik, wah
4.
Interjeksi
keheranan: aduh, aih, ai. Lho, duilah,
eh, oh, ah
5.
Interjeksi
kekagetan: astaga, astagfirullah, masaAllah,
masa, alamak, gila
Konteks
Konteks
diperlukan agar analisis semakin jelas dan terarah. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001:591), disebutkan bahwa konteks adalah bagian suatu uraian atau
kalimat yang mendukung atau menambah kejelasan makna. Menurut
Lubis dalam Yuliana (2011: 23) konteks pemakaian bahasa dibedakan menjadi empat
macam sebagai berikut:
1)
konteks fisik,
yaitu meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu komunikasi, objek
yang disajikan dalam peristiwa komunikasi itu dan tindakan atau perilaku dari
para peran dalam peristiwa komunikasi itu
2)
konteks
epistemis atau latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh pembicara dan
pendengar
3)
konteks
linguistik, yang terdiri dari kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang
mendahului satu kalimat atau tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi
4)
konteks sosial,
yaitu relasi sosial dan latar dari si
pembicara kaitannya dengan para pendengar.
Interjeksi
dalam Pembelajaran Bahasa di SMP
Interjeksi yang terdapat dalam
pembelajaran bahasa Indonesia di SMP terdapat pada kelas VIII (delapan) semester
1 (satu) dalam tema Teks Cerita Moral/Fabel Kompetensi Inti no 1.1 Menghargai
dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa
untuk mempersatukan bangsa Indonesia di tengah keberagaman bahasa dan budaya, 2.1
Memiliki perilaku jujur dalam menceritakan sudut pandang moral yang eksplisit, dan 3.1 Memahami teks cerita moral/fabel, ulasan, diskusi, cerita
prosedur, dan cerita biografi baik melalui lisan maupun tulisan (Permendiknas,
2014).
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah metode simak, dengan teknik lanjutannya yaitu metode simak bebas
libat cakap dengan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah
metode padan ekstralingual. Metode padan ekstralingual merupakan metode yang
digunakan untuk menganalisis unsur bahasa dengan unsur di luar bahasa, misalnya
situasi dan kondisi yang memicu kemunculan unsur bahasa tersebut (Mahsun, 2013:120).
Data dari
penelitian ini berupa interjeksi yang terdapat dalam konteks melekatnya
interjeksi itu. Objek dari penelitian ini adalah kata/frase/kalimat yang
mengandung interjeksi saat dituturkan dalam novel Bisiskan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi. Sumber data dari
penelitian ini adalah novel Bisikan
Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi. novel tersebut terbit pada Desember
2012, dengan tebal 520 halaman.
PEMBAHASAN
Bentuk
Interjeksi dalam Novel Bisikan Tetesan
Hujan karya Johan Mahyudi
Dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan
Mahyudi, terdapat tiga bentuk interjeksi, yakni bentuk tunggal,
repetisi/pengulangan dan bentuk dasar. Bentuk tunggal tersebut berjumlah 19,
repetisi/pengulangan berjumlah 2, dan bentuk dasar berjumlah 1. Berikut akan
diuraikan bentuk-bentuk interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan
Mahyudi.
No
|
BENTUK
INTERJEKSI
|
||
Bentuk Tunggal
|
Repetisi/Pengulangan
|
Bentuk Dasar
|
|
1.
|
Nah
|
Oke…Oke
|
Sialan
|
2.
|
Oh
|
Ho…Ho
|
|
3.
|
Hee
|
||
4.
|
Yeah
|
||
5.
|
Hei
|
||
6.
|
Ayo
|
||
7.
|
Oke
|
||
8.
|
Hai
|
||
9.
|
Ha
|
||
10.
|
He
|
||
11.
|
Kok
|
||
12.
|
Hallo
|
||
13.
|
Astaga
|
||
14.
|
Hai
|
||
15.
|
Waw
|
||
16.
|
Ah
|
||
17.
|
Aduh
|
||
18.
|
Haaa
|
||
19.
|
Mari
|
||
Tabel 1. Bentuk-bentuk Interjeksi
Makna Interjeksi
dalam Novel Bisikan Tetesan Hujan Karya Johan Mahyudi
Makna interjeksi yang terdapat dalam
novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan
Mahyudi dianalisis dari bentuk interjeksi dalam konteks kalimat tempat
melekatnya interjeksi tersebut. Berikut akan dipaparkan makna interjeksi
berdasarkan distribusi bentuk interjeksi yang terdapat dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan
Mahyudi.
No
|
Makna Interjeksi
|
Bentuk Interjeksi
|
Konteks
|
1.
|
Menyatakan ‘simpulan’
|
Nah
|
Epistemis
|
2.
|
Menyatakan ‘menjelaskan’
|
Nah
|
Linguistik
|
3.
|
Menyatakan ‘ketertarikan pembicara
terhadap hal yang ingin diketahuinya’
|
Nah
|
Sosial
|
4.
|
Menyatakan ‘kebingungan’
|
Nah
|
Epistemis
|
5.
|
Menyatakan ‘persetujuan’
|
Nah
|
Linguistik
|
Oke
|
Linguistik
|
||
Oh
|
Linguistik
|
||
6.
|
Menyatakan ‘memberikan informasi
tambahan’
|
Oh
|
Fisik
|
7.
|
Menyatakan ‘pengaduan’
|
Oh
|
Fisik
|
8.
|
Menyatakan ‘mengagumi’
|
Oh
|
Fisik
|
Waw
|
Fisik
|
||
9.
|
Menyatakan ‘mengingat’
|
Oh
|
Sosial
|
10.
|
Menyatakan ‘tidak menyanggah pernyataan
sebelumnya’
|
Oh
|
Linguistik
|
11.
|
Menyatakan ‘kekagetan’
|
Oh
|
Linguistik
|
Ha
|
Linguistik
|
||
Astaga
|
Fisik
|
||
Haaa
|
Fisik
|
||
12.
|
Menyatakan ‘keterkejutan’
|
Oh
|
Linguistik
|
He
|
Linguistik
|
||
Astaga
|
Linguistik
|
||
13.
|
Menyatakan ‘sanggahan’
|
Oh
|
Linguistik
|
He
|
Linguistik
|
||
14.
|
Menyatakan ‘pujian’
|
Oh
|
Linguistik
|
15.
|
Menyatakan ‘kesanggupan’
|
Oh
|
Linguistik
|
16.
|
Menyatakan ‘harapan’
|
Oh
|
Epsitemis
|
17.
|
Menyatakan ‘kekecewaan’
|
Oh
|
Linguistik
|
Aduh
|
Linguistik
|
||
18.
|
Menyatakan ‘kegelisahan’
|
Oh
|
Sosial
|
19.
|
Menyatakan ‘panggilan’
|
Oh
|
Sosial
|
20.
|
Menyatakan ‘kekhawatiran’
|
Oh
|
Linguistik
|
21.
|
Menyatakan ‘perasaan senang’
|
Hee
|
Fisik
|
He
|
Linguistik
|
||
Waw
|
Linguistik
|
||
Ho…Ho
|
Linguistik
|
||
22.
|
Menyatakan ‘keluhan’
|
Yeah
|
Epistemis
|
23.
|
Menyatakan ‘memotong pembicaraan’
|
Hei
|
Linguistik
|
24.
|
Menyatakan ‘menantang’
|
Hei
|
Epistemis
|
25.
|
Menyatakan ‘menyapa’
|
Hei
|
Fisik
|
Hai
|
Fisik
|
||
Hallo
|
Fisik
|
||
26.
|
Menyatakan ‘ajakan’
|
Ayo
|
Linguistik
|
Mari
|
Epistemis
|
||
27.
|
Menyatakan ‘menyuruh’
|
Ayo
|
Fisik
|
28.
|
Menyatakan ‘meminta’
|
Ayo
|
Fisik
|
29.
|
Menyatakan ‘larangan’
|
He
|
Fisik
|
30.
|
Menyatakan ‘kekesalan’
|
He
|
Fisik
|
Sialan
|
Linguistik
|
||
Ah
|
Linguistik
|
||
Aduh
|
Linguistik
|
||
31.
|
Menyatakan ‘keheranan’
|
Kok
|
Fisik
|
32.
|
Menyatakan ‘pembenaran’
|
Ah
|
Linguistik
|
Tabel 2. Makna Interjeksi
Catatan:
Meskipun bentuk interjeksi yang sama terdapat dalam konteks yang
sama, tetapi konteks yang dimaksud ialah konteks kalimat tuturan yang
berlangsung. Dalam hal ini, bisa saja suasana, topik, waktu, tempatnya yang
berbeda. Jadi, makna dianalisis tetap berdasarkan konteks kalimat tempat
melekatnya bentuk interjeksi itu. (untuk lebih jelasnya, lihat Skripsi Jaeka,
2015).
Jenis Interjeksi dalam Novel Bisikan Tetesan Hujan Karya Johan Mahyudi
Jenis
interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan
Hujan karya Johan Mahyudi dianalisis berdasarkan teori yang digagas oleh
para ahli. Akan tetapi, dalam proses analisis, ditemukan banyak jenis
interjeksi yang tidak terdapat di dalam teori yang digagas ahli tersebut.
Dengan demikian, hasil analisis mengenai jenis interjeksi dalam penelitian ini,
ditemukan beberapa jenis interjeksi baru, yang tidak tertulis dalam teori yang
digagas oleh para ahli. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan peneliti
terhadap bentuk dan makna interjeksi pada novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi, diketahui terdapat
beberapa jenis interjeksi yang akan diuraikan sebagai berikut:
Jenis Interjeksi
|
|
1. Interjeksi Simpulan
2. Interjeksi Penjelas
3. Interjeksi Penarik Perhatian Pembaca
4. Interjeksi Kebingungan
5. Interjeksi persetujuan
6. Interjeksi Pemberi Informasi Tambahan
7. InterjeksiPengaduan
8. Interjeksi Kekaguman
9. Interjeksi Pengingat
10. Interjeksi Peneriman Pernyataan
Sebelumnya
11. Interjeksi Kekagetan
12. Interjeksi Keterkejutan
13. Interjeksi Sanggahan
14. Interjeksi Pujian
15. Interjeksi Kesanggupan
16. Interjeksi Harapan
|
17. Interjeksi Kekecewaan
18. Interjeksi Kegelisahan
19. Interjeksi Panggilan
20. Interjeksi Kekhawatiran
21. Interjeksi Kesenangan
22. Interjeksi Keluhan
23. Interjeksi Pemotong Pembicaraan
24. Interjeksi Menantang
25. Interjeksi Sapaan
26. Interjeksi Ajakan
27. Interjeksi Menyuruh
28. Interjeksi Permintaan
29. Interjeksi Larangan
30. Interjeksi Kekesalan
31. Interjeksi keheranan
32. Interjeksi Pembenaran
|
Hubungan interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan Mahyudi dengan pembelajaran
bahasa di SMP
Hubungan
interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan
Hujan karya Johan Mahyudi dengan pembelajaran bahasa di SMP terdapat pada
materi bahasa yang diajarkan pada kelas VIII semester satu dalam tema Teks
Cerita Moral/Fabel dalam kurikulum 2013. Di dalam materi tersebut, terdapat
ulasan mengenai interjeksi, sehingga hasil penelitian bisa dijadikan sebagai
bahan penunjang pembelajaran bagi siswa yang sedang mempelajari materi
interjeksi dalam Teks Cerita Moral/Fabel.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Bentuk interjeksi yang terdapat di dalam
novel Bisikan Tetesan Hujan karya
Johan Mahyudi terdiri dari tiga bentuk, yakni berbentuk kata tunggal,
repetisi/pengulangan, dan bentuk dasar. Kata tunggal berjumlah 19,
repetisi/pengulangan interjeksi berjumlah 2, dan bentuk dasar berjumlah 1. Dari
hasil analisis, terdapat bentuk interjeksi yang sama dalam konteks kalimat yang
berbeda. Dari distribusi yang berbeda ini, kita dapat menentukan makna dan
jenis interjeksi.
2. Makna interjeksi yang terdapat dalam
novel Bisikan Tetesan Hujan karya
Johan Mahyudi tergantung pada konteks melekatnya interjeksi tersebut dalam
kalimat. Artinya, makna dari kata interjeksi bisa berbeda ketika distribusi
kalimatnya berbeda. Perbedaan makna ini akan menghasilkan jenis interjeksi yang
berbeda.
3. Jenis interjeksi yang ditemukan dalam
novel Bisikan Tetesan Hujan karya
Johan Mahyudi berjumlah 32 jenis, yaitu simpulan, penjelas, penarik perhatian
pembaca, kebingungan, persetujuan, pemberi informasi tambahan, pengaduan,
kekaguman, pengingat, penerima pernyataan sebelumnya, kekagetan, keterkejutan,
sanggahan, pujian, sanggupan, kekecewaan,
kegelisahan, panggilan, kekhawatiran, kesenangan, keluhan, pemotong
pembicaraan, menantang, ajakan, sapaan, menyuruh, permintaan, larangan,
kekesalan, keheranan, dan pembenaran. Dari seluruh jenis interjeksi tersebut,
terdapat kesamaan bentuk di dalamnya. Akan tetapi, jenis interjeksi dapat
diketahui berdasarkan makna yang terkandung di dalam konteks kalimat tempat
melekatnya bentuk interjeki itu.
4. Hubungan interjeksi dalam novel Bisikan Tetesan Hujan karya Johan
Mahyudi dengan pembelajaran bahasa di SMP terdapat pada materi bahasa yang
diajarkan pada kelas VIII semester satu dalam tema Teks Cerita Moral/Fabel
dalam kurikulum 2013. Di dalam materi tersebut, terdapat ulasan mengenai
interjeksi, sehingga hasil penelitian bisa dijadikan sebagai bahan penunjang
pembelajaran bagi siswa yang sedang mempelajari materi interjeksi dalam Teks
Cerita Moral/Fabel.
Saran
Penelitian mengenai keterkaitan
antara bahasa, sastra, dan kependidikan jarang dilakukan. Padahal, penelitian
semacam ini sangat menarik untuk dilakukan, khususnya bagi mahasiswa FKIP prodi
Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Penelitian mengenai interjeksi dalam novel
dan hubungannya dengan pembelajaran bahasa di sekolah ini pun belum sempurna
dilakukan. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk meneliti kelas kata
lainnya yang masih belum familiar didengar oleh umum untuk dihubungkan dengan
pembelajaran di sekolah.
Keterbatasan peneliti dalam meneliti
satu bahasa menyebabkan penelitian ini hanya meneliti interjeksi bahasa Indonesia
saja. Padahal, bahasa daerah pun menarik juga untuk diteliti. Oleh karena itu,
alangkah baiknya bagi peneliti selanjutnya untuk lebih melirik bahasa daerah
yang terkait dengan sastra dan kependidikan. Jika hal ini dilakukan, maka hasil
penelitian dari prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah akan lebih kaya dan
lebih memberikan manfaat yang berguna bagi semua kalangan, yang pada akhirnya
akan menambah khazanah hasil penelitian dalam bidang bahasa dan sastra
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia: Edisi Revisi.
Jakarta:
Rineka
Cipta
Permendiknas.
2014. Silabus Bahasa Indonesia Permen No
58 Tahun 2014
Tentang
Kurikulum SMP
Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan
Infleksional).
Bandung: Refika Aditama
Kridalaksana,
Harimurti. 2008. Kelas Kata dalam Bahasa
Indonesia Edisi Kedua.
Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Djajasudarma,
T Fatimah. 2010. Metode Linguistik:
Ancangan Metode Penelitian
dan Kajian. Bandung:
Refika Aditama
Sukri,
Muhammad. 2008. Morfologi: Kajian Antara Bentuk dan Makna.
Lombok:
Cerdas Press
Depdiknas.
2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
Pustaka
Yuliana, Nuryati. 2011. “Analisis
Pragmatik dalam Kartun Editorial Kabar
One pada Program Berita TV One”.
Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas
Maret

Tidak ada komentar:
Posting Komentar