Senin, 09 November 2015

MTQ tk Kota Mataram 2015 Mencari Negarawan: Teladan Berperilaku Al-Qur'an (Menuju Pemilukada 2015

MENCARI NEGARAWAN:
TELADAN BERPERILAKU AL-QUR’AN
(Menuju Pemilukada 2015)







                                                                                                                             


Oleh
FARIDA JAEKA




KOTA MATARAM
PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
2015

A.   PENDAHULUANPENDAHULUAN
Wilayah negeri pertiwi yang begitu luas membutuhkan sosok pemimpin hebat di dalamnya, yang dapat dijadikan panutan dalam menuntun kehidupan. Sayyidina Umar r.a pernah berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa taat”. Artinya, kehidupan manusia yang begitu kompleks ini harus memiliki seorang pemimpin. Bahkan tertulis jelas dalam hadis bahwa tiada halal bagi tiga orang yang berada di tanah gurun, kecuali mereka mengangkat salah satunya menjadi amir (pemimpin) atas mereka (HR. Abu Daud)[1]. Dengan demikian, tidak dikompromikan lagi, bahwa keberadaan seorang pemimpin mutlak adanya.
            Dari hadis tersebut dapat dilihat bahwa tiga orang saja harus salah satunya menjadi seorang pemimpin. Pemimpin pun tentu dibutuhkan dalam sebuah wilayah yang dihuni ribuan penduduknya, terlebih lagi bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat yang berjumlah sekitar 3.831 jiwa[2] khususnya dan warga Negara Indonesia yang berjumlah sekitar 231 juta jiwa[3] pada umumnya. Mereka harus memiliki seorang pemimpin untuk ditaati, setelah mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-qur’an surah An-Nisaa ayat 59:

Artinya:
….taati Allah dan taati Rasul serta ulil amri di antara kalian….”(QS.An-Nisaa,4:59)
            Hal tersebut tentu menjadi perhatian kita bersama. Tatkala kita menentukan seorang pemimpin yang tidak hanya mampu memimpin dirinya sendiri, melainkan juga cakap memimpin ummat.
            Sampai saat ini, Indonesia masih menunggu sosok pemimpin yang akan menjadi tauladan dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang sungguh-sungguh menjalankan tugas dan kewajibannya dalam menyampaikan mandat rakyat yang dipikulnya. Sosok yang perilakunya bisa menjadi panutan bagi segenap lapisan masyarakat yang dipimpinnya. Karena, seperti diketahui bahwa Indonesia masih digerogoti virus yang bernama korupsi, dihantui kemiskinan yang melanda di beberapa pelosok daerah, serta berbagai permasalahan lainnya yang perlu ditangani secepatnya. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh ummat harus menjadi perhatian utama bagi pemimpinnya.
            Gambaran tersebut memberitahukan bahwa hingga saat ini, belum muncul  pemimpin yang didambakan ummat, yakni pemimpin andalan yang perilakunya berlandaskan al-qur’an. Terlebih, pada tahun ini, tepatnya 09 Desember 2015 akan dilaksanakan Pemilukada dalam rangka pemilihan gubernur, bupati dan walikota secara serentak. Di sinilah ketelitian harus diuji dalam memilih siapa sosok yang akan mengemban mandat dalam menyampaikan gagasan dan aspirasi rakyat. Oleh karena itu, tulisan ini akan menguraikan gambaran sosok pemimpin andalan yang perilakunya berlandaskan al-qur’an, sehingga masyarakat dapat menentukan pilihan yang tepat, siapa pemimpin yang mampu dijadikan panutan dalam mengarungi kehidupan.

B.     ESENSI PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
            Menurut Kartono[4], pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain melakukan usaha bersama guna untuk mencapai suatu sasaran tertentu. Jadi, pemimpin itu harus memiliki satu atau beberapa kelebihan, sehingga dia mendapat pengakuan dan respek dari para pengikutnya, serta dipatuhi segala perintahnya. Sementara itu, Hasibuan[5] mengatakan bahwa pemimpin adalah seseorang yang dengan wewenang kepemimpinannya mengerahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Jadi, pemimpin itu harus mempunyai bawahan, harus membagi pekerjaannya, dan harus tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaannya tersebut. Selanjutnya, pendapat lain mengatakan bahwa  pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan[6].
            Syeikh Islam Ibnu Taimiyah yang dikutip Jamal Madhi[7]  mengatakan bahwa memimpin urusan manusia termasuk kewajiban terbesar agama, bahkan tidak akan tegak agama kecuali dengannya.
Selanjutnya, dalam dasar negara pancasila juga dijelaskan bahwa pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan pancasila ialah sebagai berikut:
1.      Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
2.      Ing Madya Mangun Karsa, artinya pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya.
3.      Tut Wuri handayani, artinya pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab[8].
Dari beberapa definisi pemimpin di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin merupakan seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi yang lainnya baik dalam mengarahkan maupun membimbing sehingga tercapainya suatu tujuan tertentu. Tentu saja tujuan yang dicapai ini merupakan kesepakatan bersama.
Kata pemimpin tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan. Mulyasa[9] mengatakan bahwa kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian sutau organisasi. Sementara itu, menurut Purwanto[10], kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin dan tidak terpaksa.
Dari uraian di atas dapat simpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan dan membimbing bawahannya agar dapat bekerja dengan giat dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, kepemimpinan yang digunakan oleh seorang pemimpin harus bisa memberikan tauladan yang baik sehingga bawahannya bisa menjadikannya panutan untuk dicontoh.
Berbicara mengenai kepemimpinan, terdapat beberapa tipe kepemimpinan seperti diuraikan di bawah ini:
1)      Tipe Otokratis
Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal. Dia berambisi sekali untuk merajai situasi[11]. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa pemimpin dengan tipe yang otokratis itu adalah seseorang yang sangat egois[12].
2)      Tipe Laissez Faire
Kartono[13] menjelaskan bahwa tipe pemimpin yang laissez faire itu pada hakikatnya bukanlah seorang pemimpin dalam pengertian sebenarnya. Sebab bawahan dalam situasi sedemikian itu sama sekali tidak terpimpin, tidak terkontrol, tanpa disiplin, masing-masing orang bekerja semau sendiri dengan irama dan tempo “semau gue”.
3)      Tipe Demokratis
Ditinjau dari segi persepsinya tentang kehadiran atau keberadaannya dan peranannya selaku pemimpin dalam kehidupan organisasional, pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas. Karena itu, pendekatannya dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya adalah pendekatan yang holistik dan integralistik. Seorang pemimpin yang demokratik biasanya menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilaksanakan demi tercapainya tujuan  dan berbagai sasaran organisasi. Akan tetapi, dia mengetahui pula bahwa perbedaan tugas dan kegiatan, yang sering bersifat spesialistik itu, tidak boleh dibiarkan menimbulkan cara berpikir dan cara bertindak yang berkotak-kotak[14].
      Secara islami, berangkat dari keragaman yang terdapat di dalam kehidupan beragama, Munawwir[15] membagi gaya/sikap kepemimpinan sebagai berikut:
1.      Sikap terhadap Golongan Islam
Islam secara keseluruhan terdiri dari organisasi-organisai, aliran-aliran, dan kelompok-kelompok islam. Oleh karena itu kelompok ini harus dibina agar tidak menimbulkan perpecahan sesama golongan islam. Pembinaan digunakan untuk mencari solusi dari perbedaan yang ditimbulkan agar yang sesat  kembali kepada ajaran yang benar. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mampu menanamkan sifat toleransi (tasamuh) kepada mereka. Sikap toleransi ini berguna untuk memperbaiki akhlak dan ilmu mereka agar kembali kepada ajaran yang benar.


2.      Sikap Sesama Ummat Islam
Sesama ummat islam, kita harus saling berlaku adil dan jujur. Adil dan jujur merupakan aksi sejalan yang harus dipasangkan. Pemimpin tidak boleh menyembunyikan, memindahkan dan atau mengambil hak seseorang baik untuk dirinya maupun untuk kepentingan orang lain.
3.      Sikap sebagai Pemimpin Bangsa
Yang perlu dipahami sebagai seorang pemimpin islam sebagai pemimpin bangsa adalah kepemimpinan itu adalah amanah. Pemimpin bangsa lebih luas dari pemimpin golongan dan ummat. Amanah bisa melenyapkan prasangka dan praduga jelek. Pemimpin bangsa harus bisa membaca situasi dan kondisi yang digunakan sebagai acuan untuk bertindak, kapan harus  bertindak tegas dan kapan harus berlaku toleransi.
            Dari beberapa tipe/gaya/sikap kepemimpinan di atas, yang paling ideal untuk digunakan oleh seorang pemimpin adalah tipe yang demokratis dengan berlandaskan aturan-aturan Allah Swt. Artinya gaya kepemimpinan yang demokratis diintegrasikan dengan beberapa sikap seorang pemimpin islam, yakni bersikap adil, jujur, amanah, dan bisa bersikap tegas serta toleransi. Tipe kepemimpinan yang demokratis melandaskan cara pandangnya dalam memimpin bahwa ia berasal dari rakyat, dan ia bekerja sungguh-sungguh untuk rakyat. Oleh karena itu, pemimpin dengan tipe kepemimpinan yang ideal ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi segala permasalahan yang dihadapi oleh ummat. Hal ini sesuai dengan pendapat yang diungkapkan Siagian[16] bahwa tipe pemimpin yang paling ideal  dan paling didambakan adalah pemimpin yang demokratik.

C.    KEPEMIMPINAN RASULULLLAH SAW
           Menjadi seorang pemimpin andalan merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dijalankan. Ia harus bisa menjadi tauladan sekaligus sebagai panutan bagi rakyat yang dipimpinnya. Tauladan dari semua aspek, baik dari perbuatan/tingkah laku maupun dari sifat-sifat yang dimilikinya.
           Nabi Muhammad Saw. sudah  sangat jelas dapat kita jadikan tauladan yang baik dengan 4 sifat kepemimpinannya yang terkenal, yaitu STAF (Siddiq, Tablig, Amanah, dan Fathanah). Berikut uraian singkat mengenai sifat tauladan Rasul.
1.      Siddiq
            Siddiq artinya jujur. Jujur dalam perkataan maupun jujur dalam perbuatan. Sifat jujur Nabi Muhammad Saw. berimplikasi pada upaya-upaya Good Govermance, seperti tranparansi, akuntabilitas, dan responsibilitas atas aktifitas institusi yang dipimpinnya (dalam Fuad, 2014). Pemimpin yang jujur tidak akan resah dengan apa yang dilakukannya, karena ia berlandas pada aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt., tuhan penguasa alam.
            Abdullah bin Mas’ud r.a. menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Hendaklah kalian bersikap jujur. Kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkannya kepada surga. Ketika seseorang senantiasa bersikap jujur dan terus berupaya menjaga kejujurannya sampai dengan dicatat di sisi Allah bahwa ia adalah seorang yang jujur. Janganlah sekali-kali kalian berdusta. Sebab, berdustaakan mengantarkan kepada perbuatan maksiat, dan perilaku maksiat akan mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang yang berlaku dusta, dan terus ingin berlaku dusta sehingga di sisi Allah ia dicatat seorang pendusta.” (HR. Imam Bukhari, Muslim. Abu Dawud, dan Tirmizi)[17].
             Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa sifat jujur akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan, dan kebaikan tersebut akan mengantarkannya ke surga.
2.      Tablig
            Tablig bisa diartikan dengan komunikatif. Artinya menyampaikan kebaikan kepada ummat. Kita bisa meniru sifat tablig dari Rasul ini, agar sebagai seorang pemimpin hendaknya jangan menyembunyikan informasi yang baik dan benar kepada ummat, apalagi yang menyangkut kepentingan ummat itu sendiri, terlebih informasi mengenai agama.
3.      Amanah
            Rasulullah Saw. dikenal sangat memiliki kesiapan dalam memikul tanggung jawab. Beliau terkenal sebagai seseorang yang sangat dipercaya. Hal ini selain diakui oleh kita sebagai ummatnya, juga diakui pula oleh musuh-musuhnya, seperti Abu Sufyan ketika ditanya oleh Hiraklius (Kaisar Romawi) tentang perilaku beliau.
            Bersifat amanah berarti menyampaikan semua perintah Tuhan tidak dikurangi, tidak pula ditambah berdasarkan wahyu yang diterimanya. Dengan sifatnya ini, beliau diberikan gelar Al-Amin yang berarti “yang terpercaya”. Sifat amanah ini mesti dimiliki oleh seorang pemimpin. Sifat amanah seorang pemimpin terdapat dalam al-Qur’an surah An-Nisaa ayat 58 sebagai berikut:


Artinya:
Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hokum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha teliti.” (QS. An-Nisaa, 4: 58)
4.      Fathanah
      Fathanan merupakan sifat Rasul yang berarti cerdas, yaitu akalnya panjang sebagai seorang pemimpin yang selalu berwibawa. Sifat cerdas ini dilihat dari beberapa aspek,  yaitu cerdas secara emosional, intelektual, serta cerdas secara perbuatan/tingkah laku dalam melangkah atau menetapkan suatu keputusan.
       Seorang pemimpin memang harus cerdas. Seperti tauladan kita Nabi Muhammad Saw. yang memiliki sifat tersebut. Kecerdasan seorang pemimpindapat kita lihat dalam al-qur’an surah Yusuf ayat 55 sebagai berikut:


Artinya:
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf, 12:55)

D.    KRITERIA PEMIMPIN ANDALAN
            Selain meneladani 4 sifat utama Rasulullah Saw. dalam memimpin, terdapat pula beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat di dalam kitab suci al-qur’an sebagai berikut:
1.      Berintegritas Moral yang Tinggi
            Pemimpin harus memiliki integritas moral yang tinggi. Integritas merupakan  sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran[18]. Kesatuan yang dimaksud adalah sifat-sifat yang menunjukkan kejujurannya dalam memimpin, kecerdasannya dalam mengambil setiap keputusan yang tepat, serta kesabarannya dalam mengurus segala urusan rakyatnya. Jadi, keseluruhan sifat-sifat siddiq, fathanah, dan sabar ini terintegrasi dalam satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin andalan. Pemimpin yang memiliki integritas moral yang tinggi akan mengabdikan seluruh kemampuan yang dimilikinya kepada pekerjaan yang diembannya, yaitu bekerja untuk kesejahteraan ummat.
            Di dalam QS. Yusuf ayat 55, Allah Swt. mengabadikan perkataan Yusuf as kepada Raja Mesir sebagai berikut:


Artinya:
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf, 12:55)
Dari ayat di atas, diketahui bahwa Yusuf as adalah seorang yang hafiizh (bisa menjaga) dan ‘alim (pintar, pandai). Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang “bekerja untuk negara.” Dua sifat tersebut adalah al-hifzh yang tidak lain berarti integritas, kredibiltas, moralitas, dan al-‘ilm yang tidak lain merupakan sebentuk kapabilitas, kemampuan, dan kecakapan.
Nabi Yusuf as. memberanikan diri untuk memegang jabatan sebagai pengawas harta kekayaan negara karena dalam tabir mimpi yang diungkapkannya, ia melihat adanya musim paceklik yang akan datang melanda. Sebenarnya menjadi penjaga harta negara bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan. Akan tetapi, melalui jabatan tersebut beliau bermaksud menyelamatkan umat manusia dari ancaman paceklik yang sangat berat[19]. Faishal Umar[20] mengutip komentar Al-Qurthubi, “Sesungguhnya Yusuf meminta jabatan karena ia tahu bahwa tidak ada orang lain yang sebanding dengannya dalam keadilan, ketakwaan, dan dalam memberikan hak-hak fakir miskin.” Dengan integritas moral (keyakinan dan niat yang baik) yang dimilikinya, beliau berhasil menyelamatkan rakyat dari musim paceklik yang berat.
Dalam ayat di atas, Nabi Yusuf a.s memuji dirinya. Hal ini diperbolehkan bagi seorang yang belum diketahui tentang keadaan dirinya, pada saat yang dibutuhkan. Allah Swt. menyebutkan bahwa ia adalah orang yang hafiizh (pandai menjaga), penjaga/bendahara yang dipercaya, dan ‘alim (berpengetahuan), yakni memiliki pengetahuan, ketelitian, dan kejelian terhadap segala perkara yang diurusinya[21].
Perlu diketahui sekali lagi, bahwa Nabi Yusuf a.s mengucapkan ucapan yang mengandung pujian terhadap dirinya tersebut adalah ketika beliau telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi raja. Bukan serta merta beliau memuji dirinya untuk meraih kedudukan. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan para kontestan pemilu atau para politikus yang berkampanye memuji diri dalam rangka meraih kedudukan dan ambisi politiknya.
Pelajaran besar yang dapat dipetik dari ayat ini ialah bahwa sifat-sifat baik yang diikuti oleh niat yang lurus akan menyelamatkan banyak orang dari bahaya yang akan mengancamnya. Jadi, seorang pemimpin perlu memiliki integritas moral yang tinggi, agar ia bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan paripurna.
2.      Komunikatif dan Interaktif
            Kemampuan berkomunikasi merupakan karakter yang harus dimiliki            oleh pemimpin sejati. Pemimpin bukan berhadapan dengan barang atau benda mati yang bisa digerakkan dan dipindah-pindahkan sesuai dengan kemauannya sendiri. Tetapi pemimpin berhadapan dengan rakyat, yakni kumpulan manusia yang memiliki berbagai keragaman. Oleh karena itu, pemimpin yang pandai berkomunikasi merupakan kunci terjalinnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat. 
             Dalam QS. Al-Ahzab ayat 45 disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. diberikan tugas oleh Allah Swt. untuk memberikan kabar gembira, sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (٤٥)

Artinya:
“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahzab, 33:45)
             Islam sebagai agama yang rahmatallil’alamin memberikan tugas kepada para pemimpin agar menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Untuk mewujudkan islam yang rahmatallil’alamin, dalam ayat di atas, Nabi Muhammad Saw. ditugasi oleh Allah Swt. sebagai syahidan (saksi atas kebenaran islam), mubasysyiran (pembawa kabar gembira), dan nadziran (pemberi peringatan).
            Kata mubasysyiran (pembawa kabar gembira) berhubungan dengan kata komunikatif. Artinya, setiap pemimpin harus senantiasa bisa menjalin komunikasi yang baik dengan rakyatnya. Komunikasi yang baik ini tentu berisi hal-hal yang diperlukan oleh rakyat. Informasi yang penting yang menyangkut kebijakan yang dibuat yang berhubungan dengan kepentingan bersama harus disampaikan secara terbuka kepada rakyat.
            Hal tersebut juga bisa disebut dengan interaktif. Maksudnya ialah seorang pemimpin senantiasa melakukan interaksi dengan rakyatnya. Interaksi tersebut juga akan menambah silaturrahim kepada ummat. Silaturrahim di sini bukan berarti seorang pemimpin senantiasa bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan rakyatnya. Namun, silaturrahim/interaksi juga bisa dilakukan melalui media sosial yang sedang menyebar dewasa ini, seperti facebook, twitter, dan lain sebagainya.  Dalam menjalin komunikasi, tentu memerlukan interaksi. Jadi, antara komunikasi dan interaksi adalah dua hal yang saling berkaitan.
             Selanjutnya, kata nadziran (pemberi peringatan) juga berimplikasi dengan sikap seorang pemimpin yang komunikatif. Artinya, pemimpin selain menjalankan tugas untuk menata dan mengelola sumber daya yang ada dalam suatu negara, ia juga ditugasi untuk memberikan peringatan kepada ummat yang dipimpinnya. Hal ini disebabkan pemimpin lebih mengetahui kebutuhan ummat secara keseluruhan. Misalnya, memberikan peringatan akan adanya bahaya yang mengancam, atau memberikan peringatan yang menyangkut masalah agama, misalnya memberikan peringatan kapan penentuan satu  Ramadhan/Syawal, dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan kebutuhan ummat yang harus dipenuhi oleh setorang pemimpin. Agar ummat tidak kehilangan petunjuk dalam kompleksitas permaslahan yang ada, maka peran pemimpin sebagai nadziran (pemberi peringatan) juga bisa diselaraskan dengan seorang yang memberi arah (navigator).

3.      Memiliki Keberanian dan Tanggung Jawab
Seorang pemimpin harus memiliki keberanian dan tanggung jawab yang besar. Syarat seorang pemimpin ialah dia harus berani dalam mengambil kebijakan demi kepentingan bersama, berani mengambil resiko, berani dikritik untuk perbaikan, berani menghadapi musuh dari luar dan dalam, dan berani membela kebenaran dan syiar ajaran islam[22].
Keberanian yang dimaksud adalah berani menyeru kepada kebaikan dan berani mencegah kepada yang mungkar. Hal sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ali-Imran ayat 110 sebagai berikut:




Artinya:
"Kamu adalah umat terbaik dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang makruf dan menegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah". (QS. Ali-Imran, 3:110)
Dari ayat di atas, diambil dua kata yang cocok untuk dijadikan sebagai sifat seorang pemimpin. Dua kata tersebut ialah تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ (menyuruh kepada yang ma`ruf) dan  وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ (dan mencegah dari yang munkar).
Keritera pemimpin andalan adalah memerintah yang ma’ruf. Peranan ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak memeiliki kekuasaan untuk memerintah. Jadi, seorang pemimpin harus memiliki sikap ini. Keberanian untuk menyuruh/memerintah yang ma’ruf dilaksanakan oleh pemimpin secara tegas dan konsisten. Pasalnya, keberanian ini merupakan hal yang penting, yakni ketika pemimpin takut menyeru kepada kebaikan, maka ia dapat dikatakan gagal memberikan tauladan yang baik bagi ummat.
Keberanian untuk menyuruh yang ma’ruf bisa diterapkan ketika seorang pemimpin secara tegas mengambil keputusan yang baik sesuai dengan aturan Allah Swt. untuk kepentingan bersama. secara umum, masyarakat selalu memiliki sikap pro dan kontra terhadap setiap keputusan yang dibuat oleh pemerintah. Maka di sinilah diterapkan keberanian seorang pemimpin dalam mengambil resiko terhadap ketidak keberpihakan ummat yang kontra dengan kebijakan yang diambilnya. Meskipun kebijakan tersebut pada hakikatnuya menyuruh kepada yang ma’ruf.
            Kata kedua dari ayat tersebut adalah وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ (dan mencegah dari yang munkar). Seorang pemimpin harus bisa menggunakan kekuasaannya untuk menyeru ummat agar terhindar dari perbuatan yang mngkar (perbuatan yang sia-sia). Rasul Saw. bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang melihat kemunkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu maka hendaklah mengubahnya dengan lisan. Jika tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan sikap dalam hati. Namun yang terakhir ini adalah orang yang paling lemah imannya.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan al-Tirmidzi.[23]
Berdasarkan hadits tersebut, orang yang paling tinggi derajat imannya adalah yang bisa memberantas kemunkaran dengan tangan, alias kekuasaannya. Orang yang tidak berdaya dalam memberantas kemunkaran, melainkan hanya dalam hati, maka paling lemah imannya. Semakin berkuasa memberantas kemunkaran, semakian tinggi dan kuat imannya. Semakian rendah kualitas dalam memberantas kemunkaran maka semakin rendah pula nilai keimanannya. Oleh karena itu, amanah yang dipegang oleh seorang pemimpin bisa ia gunakan untuk mencegah ummat dari perbuatan yang mungkar.
Perbuatan tersebut merupakan keberanian dalam mencegah perbuatan yang mungkar. Seorang pemimpin harus berani menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari pekerjaan yang mungkar.
Dengan keberanian yang dimilikinya tersebut, seorang pemimpin juga dituntut untuk bertanggung jawab atas segala apa yang dilakukannya. Tanggung jawab tersebut meliputi tanggung jawab terhadap segala kepentingan ummat. Hal ini disebabkan tugas seorang pemimpin sesungguhnya mengurus ummat. Cara mengurus ummat yang paling tepat adalah menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada kemungkaran.
E.     MEMILIH PEMIMPIN
Dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits merupakan hal yang penting.
Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah Swt. dan beriman kepada Rasulullah Saw. dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah "cermin" siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Saw. yang berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian"[24].
F.     KESIMPULAN
Pemimpin andalan ialah pemimpin yang perilakunya berlandaskan al-Qur’an. Kriteria pemimpin andalan yaitu selain menerapkan 4 sifat Rasul, yakni STAF (Siddiq, Tablig, Amanah, dan Fathanah), juga memiliki sifat sesuai dengan apa yang terdapat dalam al-Qur’an. Sifat tersebut ialah berintegritas moral yang tinggi, komunikatif dan interaktif, serta memiliki keberanian dan tanggung jawab. Jadi, kita sudah tahu kriteria sosok pemimpin andalan, sehingga kita siap menyongsong Pemilukada Desember tahun ini.



DAFTAR PUSTAKA
Al-qur’an dan terjemahannya
Caniago, Siti Amanah. 2010. Kepemimpina Islam dan Konvensional (Sebagai Studi
            Perbandingan). Jurusan Tarbiyah STAIN: Pekalongan

Fathan, Abu. 2013. Tafsir Ayat Al-Qur’an: Surat yusuf Ayat 55. Diakses dalam 
Fattah, Nanang. 2000. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Fuad. 2014. Meneladani 4 Sifat Rasulullah SAW dalam Kepemimpinan. Diakses
Hasibuan, Malayu S. P. 2006. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta:
            Bumi Aksara
Istiqamah, Muhammad. 2014. Kepemimpinan dalam Islam. Diakses dalam
Kartono, Kartini. 2004. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Raja Grapindo
Persada
Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya
Purwanto, Ngalim. 1991. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Rofi’un, Irham. 2014. Talenta Kaum Muda dalam Merebut Kepemimpinan Bangsa
(Bedah Konsepsi Kepemimpinan Perspektif Al-Qur’an). Diakses dalam
Siagian, Sondang P. 2003. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta




1Sunan Abi Daud, Kitab Al-Jihad No. 2610-2611, dalam Istiqamah, 2014. Diakses dalam http://pemudaistiqamah.com. Diunduh pada April 2015
[2]Badan Pusat Statistik, 2010. Diakses dalam http://www.bps.go.id. Diunduh pada April 2015
[3]Badan Pusat Statistik, 2010. Diakses dalam http://www.bps.go.id. Diunduh pada April 2015
[4] Dalam Kartini Kartono. 2004. Pemimpin dan Kepemimpinan. Hal. 51
[5] Dalam Hasibuan. 2006. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Hal. 43
[6] Dalam Nanang Fattah.2000. Landasan Manajemen Pendidikan. Hal. 88
[7] Dalam Rofi’un. 2014. Talenta Kaum Muda dalam Merebut Kepemimpinan Bangsa (Bedah Konsepsi Kepemimpinan Perspektif Al-Qur’an. diakses dalam http://irhamniforum.blogspot.com. Diunduh pada April 2015
[8] Dalam Hasibuan. 2006. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Hal. 43
[9] Dalam Mulyasa. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Hal. 107
[10] Dalam Ngalim Purwanto. 1991. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Hal. 26
[11] Dalam Kartini Kartono. 2004. Pemimpin dan Kepemimpinan. Hal. 83
[12] Dalam Siagian. 2003. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Hal 30
[13] Dalam Kartini Kartono. 2004. Pemimpin dan Kepemimpinan. Hal. 83


[14] Dalam Siagian. 2003. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Hal 40
[15] Siti Amanah Caniago. Kepemimpinan Islam dan Konvensional (Sebagai Studi Perbandingan). Religi. Vol. 13 No. 2, Oktober 2010. Hlm. 239-254
[16] Dalam Siagian. 2003. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Hal 40
[17]Hadist Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Tiqmizi diakses dalam http://pemudaistiqamah.com. Diunduh pada April 2015
[18] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Vol. 1. Diakses dalam http://ebsoft.web.id
[19] Tafsir Al-Qur’an Surat Yusuf Ayat 55. Diakses dalam http://indonesian.ws.irib.ir/islam/al-quran
[20]  Dalam Rofi’un. 2014. Talenta Kaum Muda dalam Merebut Kepemimpinan Bangsa (Bedah Konsepsi Kepemimpinan Perspektif Al-Qur’an. diakses dalam http://irhamniforum.blogspot.com. Diunduh pada April 2015
[21] lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/275. Abu fathan, 2013. Diakses dalam http://tafsirayatquran.blogspot.com/2013/02/surat-yusuf
[22] Dalam Halik. 2009
[23] Hadist Riwayat Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmizi. Diakses dalam http://saifuddinasm.com/2013/05/01/ali-imran110-umat-terpilih/. Diunduh pada April 2015
[24] Dikutip dalam Agus Saputera (Staf Hukmas dan KUB
Kanwil Kementerian Agama (Kemenag)
Prov. Riau). Diakses dalam
http://riau1.kemenag.go.id. Diunduh pada April 2015

2 komentar:

  1. Asslamualaikum wrb
    Kak farida boleh saya minta contak kakak BBM, line, WA.
    Karena saya mau belajar M2IQ sama kakak.
    Wassalamualaikum wrb

    BalasHapus
  2. Boleh dek, maaf baru dibuka lagi blog kk. hehe
    WA 087864204795

    BalasHapus